VERTEX

  • Ilustrasi
  • Selayang Pandang
  • Penulis Jemputan

BUKU SEBAGAI KHAZANAH ILMU

News image

BARU-BARU ini, saya diundang melancarkan sebuah buku kumpulan puisi dan lukisan. Tajuknya "Alien mencari cinta". Ia dihasilkan oleh Dr Ramzah Dambul, seorang anak jati Sabah kelahiran daerah Ranau. Dia adalah...

Ilustrasi | Administrator | Friday, 7 December 2012

READMORE

MENCARI DISTINASI KEHIDUPAN...............

ALHAMDULILLAH!...dengan izinya kita diberikan kesempatan untuk hidup di dunia ini. Sebagai manusia kita harus bersyukur kerana diberikan jasad dan nyawa untuk hidup dengan percuma, saya percaya ramai yang tidak sedar...

Selayang Pandang | Administrator | Monday, 29 April 2013

READMORE

TERLAMBAT ……..!

News image

Diadaptasi oleh : Harun Tafsir.    Membahas masalah pembagian tugas suami-isteri dalam kehidupan berumah tangga merupakan sesuatu yang menarik dan tidak pernah kehabisan bahan. Sepanjang perbahasan berbagai argumen dikemukan, pandangan dari...

Catatan Pengarang | Administrator | Sunday, 3 February 2013

READMORE
FALSAFAH “ MENGASAH “
Written by Administrator
Tuesday, 04 January 2011 07:12
PDF Print E-mail

Oleh : Harun Tafsir.

Walaupun tampak masih penat, kerana baru dua hari sampai dari London, dengan tetap bersemangat, Datuk Hajjah Raya Erom, Pengerusi Yayasan Kebajikan Suria, memberikan motivasi kepada para pekerja yang bertanggung jawab mengurus dan mengelola Rumah Kebajikan Suria, di Kampung Panjut, Tuaran.

Dengan senyum penuh makna, Datuk Hajjah Raya Erom menyuruh para pekerja masing-masing menyediakan sebuah pisau, yang “wajib di asah” dan di sebutkan apa sahaja guna pisau itu. Dengan wajah penuh kebingungan, para pekerja mencatit apa yang diarahkan dan ujungnya muncul soalan-soalan, memohon penjelasan.
 
Saya jadi teringat cerita dibawah ini :

Alkisah, seorang peniaga yang menjual kayu, memiliki seorang pekerja untuk menebang pokok di hutan. Gaji yang diberikan cukup besar dan kondisi kerja yang sangat baik, maka pekerja itu pun berazam untuk bekerja sekuat tenaga dan semaksima mungkin.

Sang majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan kawasan kerja yang mesti diselesaikan, dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pokok.

Hari pertama bekerja, si penebang pokok berhasil menumbangkan delapan batang pokok yang cukup besar. Mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan telus. "Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pokok-pokok itu. Belum pernah ada yang mampu berbuat sepertimu selama ini. Teruskan bekerja seperti itu."

Kerana sangat termotivasi oleh pujian majikannya, esok hari si penebang bekerja lebih keras lagi. Tetapi malangnya dia hanya berhasil menumbangkan tujuh batang pokok. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan, bahkan mengecewakan. Semakin bertambah hari, semakin sedikit pokok yang mampu ditumbangkan.

"Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku. Bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?" pikir penebang pokok, merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.

Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, "bila masa akhir  kamu MENGASAH kapak?"

"Mengasah kapak? Saya tidak punya masa untuk itu! Saya sangat sibuk setiap hari menebang pokok dari pagi hingga petang dengan sekuat tenaga," kata si penebang.

"Nah, di sinilah puncanya. Ingat hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan TERASAH, maka kamu boleh menebang pokok dengan HASIL MAKSIMA. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama, tetapi ”tidak diasah”. Kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan masa untuk ”mengasah” kapakmu, agar setiap hari mampu bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksima.

Sekarang, mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!" perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukkan kepala dan mengucap terima kasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.

Saudara,

Sama seperti si penebang pokok, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, selalu terjebak dalam rutiniti yang terpola. Sibuk, dan sibuk terus, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak, untuk "MENGASAH" dan belajar, agar dapat menambah pengetahuan, meneroka wawasan baru, mengembangkan kreativiti dan meningkatkan produktiviti kerja.

Seperti pepatah yang mengatakan "istirahat bukan berarti berhenti, tetapi untuk bersedia menempuh perjalanan lebih jauh lagi." Tentunya istirahat yang dimaksud adalah istirahat yang berkualiti dan bukan untuk bermalasan.

Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, bekerja...bekerja....belajar...kembali bekerja ...(bekerja sambil belajar), pasti kehidupan kita akan dinamik, berkembang dan bermakna !

Ingat,

“Alloh mengangkat derajat orang yang berpengetahuan (berilmu) dari kamu semua, lebih tinggi dari orang yang tidak berilmu (tidak mahu belajar)…..”  

Jangan merasa puas hati dengan ilmu yang dimiliki….

Tholabul Ilmi minal mahdi ilal lahdi (belajarlah sejak dari buaian hingga lubang kubur).


~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kampung Likas, awal januari 2011.-